Hubungan re-admisi pasien gangguan mental berat dengan tingkat stres keluarga

Authors

  • Destinawati Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. Samsi Jacobalis Provinsi Kepulaun Bangka Belitung, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.63425/ljmh.v4i1.223

Keywords:

Gangguan Mental Berat, Kesehatan Jiwa, Re-Admisi, Tingkat Stress Keluarga

Abstract

Latar belakang: Proses pemulihan pada pasien gangguan mental berat berlangsung panjang dan sering diwarnai oleh fase respons, remisi, dan relaps, tanpa jaminan pemulihan yang stabil. Re-admisi yang berulang tidak hanya berdampak pada kondisi klinis pasien, tetapi juga memberikan konsekuensi besar bagi keluarga sebagai caregiver utama. Tujuan: menganalisis hubungan re-admisi pasien gangguan mental berat dengan tingkat stress keluarga di Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. Samsi Jacobalis Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Metode: Jenis penelitian adalah kuantitatif dengan desain deskriptif korelasional dan pendekatannya cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling, yaitu melibatkan seluruh anggota populasi yang memenuhi kriteria penelitian. Jumlah keseluruhan responden pada penelitian ini sebanyak 61 responden yang terdiri dari 41 responden kelompok keluarga pasien yang re-admisi dan 20 responden kelompok keluarga pasien yang tidak re-admisi. Kuesioner Perceived Stress Scale (PSS)-10 untuk mengukur tingkat stress pada keluarga pasien gangguan mental berat. Analisis data menggunakan uji Chi Square/Fisher’s exact Test. Hasil: Sebagian besar responden keluarga yang re-admisi sebanyak 27 responden (65,9%) mengalami stress sedang, sedangkan 14 responden (34,1%) mengalami stress berat. Sedangkan untuk keluarga tidak re-admisi keseluruhan responden mengalami stress sedang (20 responden, 100%). Kesimpulan: terdapat hubungan yang signifikan antara re-admisi pasien gangguan mental berat dengan tingkat stres keluarga (p=0,002). Kekuatan hubungan termasuk kategori sedang (Cramer's V=0,381). Hal ini menunjukkan bahwa keluarga memerlukan perhatian sebagai caregiver melalui skrining stress secara berkala, psikoedukasi mengenai pencegahan kekambuhan, konseling keluarga serta program pendampingan setelah pasien pulang.

Downloads

Published

2026-08-20

Similar Articles

1 2 3 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.